Pages

Sunday, 17 July 2011

Jalan Ke Syurga

Dunia adalah fana. Tiada yang kekal didalamnya. Manusia tidak akan pernah merasakan kekekalan di dunia. Harta berlimpah ruah yang dimiliki, pangkat kehormatan yang diduduki, rumah mewah yang didiami, pekerjaan yang digeluti, dan istri cantik yang senantiasa menyerta, tak akan mampu berbuat banyak keika ajal telah menjemput. Semuanya akan diam. Hanya isak tangis yang akan mengantarkan kepergian manusia ke alam kubur. Semuanya fana, hanya amal sholeh yang akan terus menyertai.

Diantara deretan amal sholeh yang akan mengantarkan manusia kedalam kenikmatan al jannah (surga) adalah sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:
"Amalkanlah oleh kamu enam perkara, aku menjamin niscaya kamu akan masuk surga, jujurlah kamu ketika berkata, tepatilah janji ketika kamu berjanji, tunaikanlah amanah, jagalah kehormatan (farji)mu, tundukanlah pandanganmu, dan dermakanlah hartamu" (HR Ahmad dari Ubadah bin Shamit).

Bedasarkan hadits diatas, tiket yang akan mengantarkan manusia masuk kedalam surga itu adalah:

1. Jujur
Allah berfirman dalam surat An-Anfal 58
"Dan jika kamu khwatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat".

Allah berfirman dalam surat At-Taubah 119
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)".

Jujur adalah berkata apa adanya tidak melebihi dan tidak mengurangi.
Jujur adalah pesan wahyu yang sangat penting.

Dimanapun dan kapanpun seorang muslim memahami dan mengamalkan kaidah jujur secara baik dan sempurna. Kejujuran tidak hanya terbatas pada ungkapan lisan belaka. Namun pula kejujuran pada amal perbuatan.

Rasulullah SAW bersabda:
"Hendaklah kamu selalu berbuat jujur. Sebab kejujuran membimbing ke arah kebaikan, dan kebaikan membimbing ke arah surga. Tiada henti-hentinya seorang berbuat jujur dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kejujuran sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai orang yang jujur. Hindarilah perbuatan bohong, sebab kebohongan membimbing ke arah kejelekan, dan kejelekan membimbing ke arah neraka, tiada henti-hentinya seorang berbuat kebohongan sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai pembohong" (HR Bukhari Muslim dari Ibnu Mas'ud ra).

Bahwa jujur mengantarkan dirinya ke surga, sedangkan dusta akan mengantarkan kedalam neraka. Secara khusus, bagi orang yang berkata dusta Rasulullah SAW mengelompokkannya pada golongan manusia yang memilki sifat-sifat munafik. Sabdanya:
"Tanda-tanda munafik itu ada tiga. Apabila berkata dusta, apabila berjanji tidak ditepati, dan apabila dipercayai khianat" (HR Bukhari dan Muslim).

2. Menepati janji
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra 34:
"...dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya".

Entah apa penyebabnya, diantara kita (kaum muslimin) tidak sedikit yang menganggap enteng terhadap janji, bahkan seolah merasa tak berdosa jika janji itu tidak ditepati. Untuk manusia seperti ini, Rasulullah bersabda:
"Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang-orang yang sezaman denganku (para sahabat), kemudian orang-orang yang bertemu dengan para sahabat (tabi'in), kemudian orang-orang yang bertemu dengan tabi'in (tabi'ut-tabi'in), kemudian sesudahku nanti akan datang segolongan kaum yang bersedia menjadi saksi tetapi tidak tersedia diberi kesaksian. Mereka banyak berdusta, dan tidak lagi dapat dipercaya. Mereka banyak bernadzar dan enggan melaksanakannya. Mereka kelihatan gemuk-gemuk (karena banyak memakan barang syubhat" (HR Bukhari Muslim dari Imran bin Hushain)

Sungguh berbahagia orang yang senantiasa menepati janjinya dan sungguh celaka orang yang senantiasa melanggar janjinya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin 'Ash diungkapkan bahwa diantaranya apabila berjanji mengingkarinya.
Rasulullah bersabda:
"Ada empat perkara yang apabila dimiliki seorang yang berarti, dia orang munafik murni. Barang siapa memiliki salah satu sifat dari empat sifat itu, maka dia memiliki sebagian dari munafik hingga dia mau meninggalkan sifat tersebut. Empat sifat tersebut ialah, bila dipercaya khianat, bila berbicara bohong bila berjanji mengingkari, dan bila berdebat licik".

3. Menunaikan Amanah
Allah berfrman dalam surat An-Nisa 58
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".

Manusia wajib menyampaikan amanat kepada yang berhak. Amanah harta, kedudukan, jabatan, kepemimpinan, anak, istri, dan lainnya adalah diantara deretan amanah-amanah Allah yang harus ditunaikan dengan benar. Jika amanah-amanah tersebut dapat ditunaikan dengan benar maka berbahagialah ia, namun jika sebaliknya, celakalah ia.

Rasulullah SAW bersabda:
"Tiada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memiliki sikap amanah, dan tiada shalat yang sempurna bagi orang yang tiada bersuci terlebih dahulu" (HR Ath-Thabrani dan Ibnu Umar).

4. Menjaga Kehormatan
Allah berfirman dalam surat Al Mukminun 1-6
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga farjinya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki".

Menjaga kehormatan (farji) merupakan diantara deretan karakteristik orang mukmin yang bahagia dan beruntung. Melakukan zina merupakan perbuatan terkutuk. Allah berfirman dalam surat Al-Isra 32
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk".

5. Ghadul Bashar (Menjaga, Menundukkan Pandangan)
Allah berfirman dalam surat An-Nur 30-31
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya".

Ghadul Bashar artinya menundukkan atau memalingkan pandangan dari hal-hal yang haram dilihat. Syaikh Abu Huzaifah Ibrahim bin Muhammad (1991:10) dalam mengartikan istilah gadhul bashar ini adalah menahan atau mencegah pandangan dan sesuatu yang tidak halal. Dalam arti lain, memalingkan pandangan ke arah yang lain jauh dari apa yang diharamkan memandangnya. Membawa jiwa agar bertatakrama seperti ini, memerlukan keimanan yang kokoh dan kemauan yang kuat. Jika kita tidak disengaja melihat aurat wanita yang bukan muhrim tidaklah berdosa.

Rasulullah bersabda
"Hai Ali janganlah pandangan yang satu mengikuti pandangan berikutnya. Kamu hanya boleh pada pandangan yang pertama, adapun yang berikutya tidak boleh" (HR Ahmad dari Bukhari).

6. Memelihara Kedermawanan.
Dermawan, suka membantu, suka menolong, merasakan kepahitan orang lain, merupakan sikap terpuji dan mulia. Dermawan adalah sikap mulia yang termasuk akhlakul karimah. Dengan memelihara kedermawanan, seorang akan mendapat tiket surga.

Kebalikan dari dermawan adalah bakhil atau kikir. Sikap bakhil ini sangat tercela dan akan membawa setiap yang menggenggamnya pada kehancuran, dosa, dan neraka.

Rasul SAW bersabda:
"Jauhilah sikap kikir, sebab kehancuran yang dialami oleh orang-orang sebelummu adalah akibat kikir. Ia memerintahkan kepada orang banyak berbuat bakhil, kemudian mereka pun bakhil. Ia memerintahkan kepada orang yang banyak memutuskan tali persaudaraan, kemudian mereka pun memutuskannya. Selanjutnya, ia memerintahkan kepada orang banyak berbuat jahat, kemudian mereka pun melakukannya" (HR Abu Dawud).

1 comment:

  1. waallahualam...
    salah satu cite2 ku yg paling tinggi..
    ingin ke syurga...
    amin..

    ReplyDelete